hehehe ... I was going to bed, but suddenly remembered a funny thing, that will tell you...
At that time about eleven years ago, I was junior high school, and I live in a dormitory.
I've got a good friend, she was my roommate, Sylvia is her name.
"Via", I used to call her that. Via a blind too, just like me ... ;)
At that moment, me and Via chat both in our room. I sat on her mattress.
Coincidence time Via has just taken clothes from the clothesline, so that the mattress was a lot of pinching are scattered. I feel uncomfortable with it, and I intend to organize the pinching neatly.
I took one of the pinching, but suddenly my intention changed... Instead there was a good idea in my mind. (hehehe,,, silly idea so why say good ...) I even clipped it on clothes that Via wear.
Nearly all the pinching in Via's mattress I clip on her clothes without her realize. I very slowly clip the pinching :D
"Ai, urang rek ngangkat jemuran heula nya sawareh deui bisi hujan..." (Sundanese) means: "Ai, I want to grab some clothes for now, afraid of the rain ..." Via said.
with eager, I replied: ""enya Via, buru kaditu! geus ceudeum ih..." means: ""Yeah Via, hurry up! Already cloudy..."
I smiled to myself when Via out of the room. I was anxious to know the reactions of people who see her.
"hmm, It'll be fun!" I talk to myself.
"Euleuh euleuh, Viaaaa... naha eta meni rimbil jepitan dina acuk?!" means: "Ouch, Viaaaa ... why in the clothes you are wearing so many pinching?!"
I heard the dormitory chef say like that to Via. It sounds so obvious, because the distance between clothesline and my room very close, clothesline in the back of my room.
Of course I'm very glad to hear it, that's means, I got her. Instantly my laughter broke out, I can not stand it anymore ... :))
Via must have heard me laugh. Suddenly she shouted hysterically calling my name. I still take it easy, put face without sin... hehehee
At that time I was resigned to what punishment would be given to me by Via. But basically Via is good person and loves me, (you have to believe it!), I didn't got a penalty from her, finally instead she was laughing with me ... :))
hmm,,, if i'm remembering the past like this, the desire to have a time machine is always on my mind :P
Monday, July 19, 2010
Wednesday, July 14, 2010
Long Life Education: "Untuk Acah"
sebuah tulisan, yang ditulis oleh sodaraku tersayang,
Zeffa09
Long Life Education: "Untuk Acah"
Jujur, aku sangat terharu membacanya ^_^
Zeffa09
Long Life Education: "Untuk Acah"
Jujur, aku sangat terharu membacanya ^_^
Sunday, June 27, 2010
Aku, Via dan Jepitan
hehehe... tadinya aku mau tidur nih, tapi tiba-tiba teringat akan hal yang lucu, yang akan kuceritakan ini...
Waktu itu kira-kira sebelas tahun lalu, aku masih SMP, dan aku tinggal di sebuah asrama.
Aku punya seorang teman baik, bahkan bisa dikatakan sahabat, teman sekamar pula, namanya Sylvia.
"Via", aku biasa memanggilnya begitu. Via seorang tunanetra juga, sama seperti aku... ;)
Ketika itu, sehabis makan siang, aku dan Via ngobrol-ngobrol di kamar berdua. Aku duduk di kasur Via. Kebetulan waktu itu Via baru aja ambil pakaian dari jemuran, sehingga di kasurnya banyak jepitan berserakan.
Aku merasa risih dengan hal itu, dan aku berniat menata rapi jepitan-jepitan itu. Kuambil salahsatu dari jepitan-jepitan itu, tapi tiba-tiba niatku kok berubah ya... malah muncul ide bagus dibenakku. (hehehe,,, ide konyol gitu kok dibilang bagus...) aku malah menjepitkan jepitan itu di baju yang sedang Via pakai. Nyaris semua jepitan yang ada di kasur Via aku pasang di bajunya tanpa dia sadari. Pelan-pelan sekali aku jepitkan seluruh jepitan itu :D
"Ai, urang rek ngangkat jemuran heula nya sawareh deui bisi hujan..." (bahasa Sunda) artinya: "Ai, aku mau ambil jemuran dulu ya sebagian lagi takut ujan..." kata Via.
Dengan semangat aku menjawab: "enya Via, buru kaditu! geus ceudeum ih..." artinya: "Iya Via, cepetan sana! udah mendung ih..."
Aku tersenyum-senyum sendiri ketika Via keluar kamar. Aku ingin lekas tahu reaksi orang-orang yang melihat dia.
"Pasti seru nih," omongku dalam hati.
"Euleuh euleuh, Viaaaa... naha eta meni rimbil jepitan dina acuk?!" Artinya: "aduh, Viaaaa... kok di baju kamu banyak banget jepitan?!" kudengar suara juru masak asrama ngomong gitu ke Via, jelas sekali kedengarannya, karena jarak kamarku dengan jemuran dekat sekali, jemuran tuh ada di belakang kamarku.
Tentu saja aku senang mendengar itu, itu artinya, aku berhasil ngerjain Via. Seketika tawaku pecah, tak bisa aku tahan-tahan lagi... :))
Via pastinya juga denger aku ketawa. Tiba-tiba dia berteriak histeris manggil namaku. Aku sih santai aja, watados alias wajah tanpa dosa... hehehee
Waktu itu aku pasrah aja mau dihukum apa sama Via. Tapi dasar Via orangnya emang baik dan sayang sama aku, (geer mode: On) aku nggak dapat hukuman apa-apa dari dia, ujung-ujungnya dia juga malah tertawa-tawa bareng aku... :))
hmm,,, kalau lagi flashback gini keinginan untuk punya mesin waktu selalu ada :P
Waktu itu kira-kira sebelas tahun lalu, aku masih SMP, dan aku tinggal di sebuah asrama.
Aku punya seorang teman baik, bahkan bisa dikatakan sahabat, teman sekamar pula, namanya Sylvia.
"Via", aku biasa memanggilnya begitu. Via seorang tunanetra juga, sama seperti aku... ;)
Ketika itu, sehabis makan siang, aku dan Via ngobrol-ngobrol di kamar berdua. Aku duduk di kasur Via. Kebetulan waktu itu Via baru aja ambil pakaian dari jemuran, sehingga di kasurnya banyak jepitan berserakan.
Aku merasa risih dengan hal itu, dan aku berniat menata rapi jepitan-jepitan itu. Kuambil salahsatu dari jepitan-jepitan itu, tapi tiba-tiba niatku kok berubah ya... malah muncul ide bagus dibenakku. (hehehe,,, ide konyol gitu kok dibilang bagus...) aku malah menjepitkan jepitan itu di baju yang sedang Via pakai. Nyaris semua jepitan yang ada di kasur Via aku pasang di bajunya tanpa dia sadari. Pelan-pelan sekali aku jepitkan seluruh jepitan itu :D
"Ai, urang rek ngangkat jemuran heula nya sawareh deui bisi hujan..." (bahasa Sunda) artinya: "Ai, aku mau ambil jemuran dulu ya sebagian lagi takut ujan..." kata Via.
Dengan semangat aku menjawab: "enya Via, buru kaditu! geus ceudeum ih..." artinya: "Iya Via, cepetan sana! udah mendung ih..."
Aku tersenyum-senyum sendiri ketika Via keluar kamar. Aku ingin lekas tahu reaksi orang-orang yang melihat dia.
"Pasti seru nih," omongku dalam hati.
"Euleuh euleuh, Viaaaa... naha eta meni rimbil jepitan dina acuk?!" Artinya: "aduh, Viaaaa... kok di baju kamu banyak banget jepitan?!" kudengar suara juru masak asrama ngomong gitu ke Via, jelas sekali kedengarannya, karena jarak kamarku dengan jemuran dekat sekali, jemuran tuh ada di belakang kamarku.
Tentu saja aku senang mendengar itu, itu artinya, aku berhasil ngerjain Via. Seketika tawaku pecah, tak bisa aku tahan-tahan lagi... :))
Via pastinya juga denger aku ketawa. Tiba-tiba dia berteriak histeris manggil namaku. Aku sih santai aja, watados alias wajah tanpa dosa... hehehee
Waktu itu aku pasrah aja mau dihukum apa sama Via. Tapi dasar Via orangnya emang baik dan sayang sama aku, (geer mode: On) aku nggak dapat hukuman apa-apa dari dia, ujung-ujungnya dia juga malah tertawa-tawa bareng aku... :))
hmm,,, kalau lagi flashback gini keinginan untuk punya mesin waktu selalu ada :P
Thursday, June 24, 2010
Upload File Dibayar OlehZiddu.com
Barangkali hampir setiap blogger yang suka download atau upload file mengetahui tentang ziddu.com.
Ziddu.com adalah merupakan salah satu penyedia jasa hosting untuk upload atau menyimpan file secara gratis yang ada di internet.
Untuk upload file kita bisa juga tanpa harus register terlebih dahulu. Lebih asiknya lagi, dari pihak ziddu akan memberikan upah setiap kali ada file kita yang didownload oleh pengunjung. Enak nggak tuh? Sudah gratis dibayar pula.
Memperoleh file hosting gratis saja sebenarnya sudah cukup. Apalagi mendapat bayaran setiap ada yang download file kita. Tentu ini sudah lebih dari cukup, ibaratnya sambil menyelam minum air. Sudah gratis, di bayar lagi. Apa nggak enak?
Ziddu.com adalah merupakan salah satu penyedia jasa hosting untuk upload atau menyimpan file secara gratis yang ada di internet.
Untuk upload file kita bisa juga tanpa harus register terlebih dahulu. Lebih asiknya lagi, dari pihak ziddu akan memberikan upah setiap kali ada file kita yang didownload oleh pengunjung. Enak nggak tuh? Sudah gratis dibayar pula.
Memperoleh file hosting gratis saja sebenarnya sudah cukup. Apalagi mendapat bayaran setiap ada yang download file kita. Tentu ini sudah lebih dari cukup, ibaratnya sambil menyelam minum air. Sudah gratis, di bayar lagi. Apa nggak enak?
Friday, February 19, 2010
Gara-Gara Bau Badan, Diusir dari Pesawat
Bagi Anda yang memiliki potensi bau badan berlebih sebaiknya berhati-hati dan menggunakan minyak wangi sebelum bepergian. Karena seorang penumpang di maskapai penerbangan Jazz Air asal Kanada, diusir hanya lantaran keluhan seluruh penumpang pesawat yang mencium bau badan menyengat.
Demikian dirilis CNN, Kamis (18/2).
Penumpang wanita duduk dekat dengan penumpang pria "bau" itu mengungkapkan, seluruh penumpang pesawat hanya bergumam dan menatap ke arah pria sumber bau tidak sedap tersebut.
Wanita yang tidak mau disebutkan jati dirinya itu menggambarkan situasi pesawat sangat tidak nyaman. Bahkan, penumpang lain menyebutkan, bau yang ditimbulkan sangat "brutal".
Penumpang berbau badan menyengat itu akhirnya diminta turun oleh awak pesawat.
Demikian dirilis CNN, Kamis (18/2).
Penumpang wanita duduk dekat dengan penumpang pria "bau" itu mengungkapkan, seluruh penumpang pesawat hanya bergumam dan menatap ke arah pria sumber bau tidak sedap tersebut.
Wanita yang tidak mau disebutkan jati dirinya itu menggambarkan situasi pesawat sangat tidak nyaman. Bahkan, penumpang lain menyebutkan, bau yang ditimbulkan sangat "brutal".
Penumpang berbau badan menyengat itu akhirnya diminta turun oleh awak pesawat.
Tuesday, October 13, 2009
CURAHAN HATIKU
saat ini aku menangis...
Sebenarnya, agak pantang aku jika sedang menghadapi kesulitan, lalu mengeluarkan airmata. tapi...apa daya, rasanya sulit banget menahan airmata ini, airmata ini mengalir begitu saja. :((
Sejak lama, aku ingin sekali mencurahkan isi hatiku pada seseorang dengan mengatakan ini:
"Kenapa ya, keberuntungan jarang berpihak padaku..."
tapi ini kutahan-tahan agar tak terucap di hadapan siapa pun... karena orang pasti akan bilang:
"hush...kamu jangan bilang gitu donk, itu artinya kamu kurang bersyukur. sudahlah, syukuri apa yang ada..."
ya, orang pasti akan bilang begitu, dan aku tak mau mendengar hal itu terucap dari bibir siapapun untukku.
Akhirnya semua ini kutulis, karena aku sudah tak tahan, ingin mencurahkan isi hati ini, yang seperti inilah adanya.
Sebenarnya, agak pantang aku jika sedang menghadapi kesulitan, lalu mengeluarkan airmata. tapi...apa daya, rasanya sulit banget menahan airmata ini, airmata ini mengalir begitu saja. :((
Sejak lama, aku ingin sekali mencurahkan isi hatiku pada seseorang dengan mengatakan ini:
"Kenapa ya, keberuntungan jarang berpihak padaku..."
tapi ini kutahan-tahan agar tak terucap di hadapan siapa pun... karena orang pasti akan bilang:
"hush...kamu jangan bilang gitu donk, itu artinya kamu kurang bersyukur. sudahlah, syukuri apa yang ada..."
ya, orang pasti akan bilang begitu, dan aku tak mau mendengar hal itu terucap dari bibir siapapun untukku.
Akhirnya semua ini kutulis, karena aku sudah tak tahan, ingin mencurahkan isi hati ini, yang seperti inilah adanya.
Sunday, August 9, 2009
JANGAN MENYERAH
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
(D'Masiv’s song)
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
(D'Masiv’s song)
Sunday, March 8, 2009
ceritaku
Sebenarnya sudah lama aku ingin menuliskan ceritaku ini, tapi, aku baru diberi kekuatan sekarang untuk menuliskannya. “emang kemarin-kemarin ga kuat nulis?” bukan gitu kaliiiii…
Pernah beberapa minggu yang lalu aku mencoba untuk menulis cerita yang akan kuceritakan ini, tapi… aku sungguh-sungguh tak sanggup menahan airmataku waktu itu. “segitunya yah?“
Buatku, ini adalah cerita yang sangat menyedihkan dan mengecewakan, namun dengan adanya aku menuliskan ini, bukan berarti aku ingin berbagi kesedihan dan kekecewaan, tapi aku Cuma gak mau lagi mendengar orang-orang menanyakan kabar kehamilanku.
Nah, untuk menghindari hal itulah aku menuliskan ceritaku ini.
Kalau kita sadari, memang, hidup manusia itu penuh misteri, seperti halnya juga dengan hidupku… “emang ngalamin misteri apaan?”
Waktu itu hari senin, 8 Desember 2009, bertepatan dengan hari raya Idil Adha, kebetulan aku sedang di rumah orangtuaku. Sekitar jam 5 sore, aku, ibu dan ayahku sedang mendengarkan berita di TV sambil ngobrol ngalol ngidul. Kalau tidak salah, salahsatu obrolan kami waktu itu mengenai 4 bulanan, karena kandunganku hampir menginjak 4 bulan. “what’s 4 bulanan? Cari aja di om google!”
Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Lalu aku ke kamar mandi. Tapi belum sempat aku buang air kecil, aku sadar, telah ada cairan membasahi rok yang sedang aku pakai waktu itu. Terang saja aku panik. Tapi, aku berusaha untuk menenangkan diri sendiri, sambil memastikan, cairan apa itu sebenarnya.
Aku pun akhirnya tahu, bahwa itu adalah darah… ya, itu darah!
Kemudian dengan tergesa-gesa, aku menuju ke kamarku. Rasanya tenagaku hilang saat itu.
aku benar-benar tidak tenang saat itu. Semua orang disekitarku berusaha menenangkan aku. Tapi tetap saja, bayangan-bayangan buruk memenuhi benakku.
Ada satu hal yang membuatku sedikit tenang, cerita kakakku, dia bilang, ada tetangga yang sedang hamil tiga bulan, tapi setiap bulan dia haid, dan kandungannya baik-baik saja sampai saat ini. Sebisa mungkin, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kandunganku akan baik-baik saja.
Singkat cerita, besoknya aku pergi ke dokter specialis kandungan dengan ditemani kakakku. Suamiku tidak bisa ikut, karena katanya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, walau saat itu sebenarnya aku sangat membutuhkannya di sisiku.
Setelah melewati antrian yang cukup panjang, tibalah saatnya aku untuk diperiksa oleh sang Dokter.
Akhirnya Dokter pun memeriksa kandunganku. Dokter menyatakan bahwa aku mengandung janin kembar, tapi… jantung mereka sudah tidak berdenyut lagi… itu artinya, janin yang aku kandung sudah tidak bernyawa. :((
Mendengar berita itu, aku tak kuasa lagi menahan tangis. Aku merasa, aku telah kehilangan sebuah harapan.
Sepulang dari dokter, aku pun mengabarkan hal ini kepada suamiku. Aku tahu benar, perasaannya sama sepertiku. Tapi suamiku tidak yakin 100% terhadap hasil pemeriksaan dokter. Dia ingin agar aku memeriksakan kandunganku kembali ke dokter yang berbeda.
Besoknya, aku pun kembali memeriksakan kandunganku ke sebuah rumahsakit di Bandung dengan ditemani suami dan juga kakakku. suamiku memohon kepada suster yang membantu dokter yang akan memeriksaku agar aku dicatat sebagai pasien darurat sehingga aku didahulukan untuk diperiksa dokter.
Akhirnya dokter pun memeriksa kandunganku, dan ternyata hasilnya sama, bayi kembarku sudah tidak bernyawa… dengan sabar, dokter menerangkan kepada kakakku tentang keadaan janin di perutku. Masih terngiang ditelingaku kata-kata dokter itu:
“Nah, bu, ini kepalanya… dan ini jantungnya… coba ibu lihat, jantungnya tidak berdenyut… dan ini bayi yang satunya lagi… ibu bisa lihat, keadaannya sama, kan?” ya, aku benar-benar ditinggalkan mereka… bayi kembarku… “don’t cry!!!”
9 hari setelah itu, setelah para dokter berusaha mengeluarkan bayiku, barulah bayi kembarku keluar dari perutku. Dokter yang menanganiku sempat merasa sedikit putus asa, karena rahimku tidak juga mengalami bukaan sedikit pun, padahal aku sudah 3 hari menginap di rumahsakit tersebut. Itu artinya, sudah 3 hari juga dokter berusaha untuk membuka rahimku, karena konon, pasien-pasiennya yang mengalami hal yang sama denganku, biasanya hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk bisa mengeluarkan janin mereka, sedangkan aku? 9 hari! “mungkin kalian emang betah tinggal di perut mama…”
Alhamdulilah, aku melahirkan bayi-bayiku tanpa operasi, meskipun prosesnya cukup lama.
Selama di rumahsakit, berbagai pengalaman pun aku dapatkan. Aku sempat mengalami dimarahi suster dan bidan ketika mereka memberikan obat padaku, “bukan karena aku gak mau dikasih obat lo, tapi aku tak tahan merasakan sakit ketika mereka memberi obat padaku dengan cara mereka… apalagi itu dilakukan 6 jam sekali… aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh… jadi kebayang…”,
aku juga pernah mengalami Anemia akibat kurang tidur karena harus mengkonsumsi obat selama 6 jam sekali, mendengar orang yang melakukan persalinan nyaris tiap waktu, etc. hal itu berlangsung selama kurang lebih 6 hari, sebelum akhirnya dokter menyarankan agar aku istirahat di rumah selama 2 hari.
Waktu itu aku pulang ke rumah hari Senin, 15 Desember 2008, dan dokter meminta aku kembali lagi hari Kamis. Aku pun merasa sedikit lega, karena akan terbebas dari suasana rumahsakit. Lalu aku pulang ke rumah orangtuaku.
Aku masih ingat benar, hari Rabu, 17 Desember, tepat jam 10 malam aku merasakan mules yang sangat hebat. Sampai akhirnya, kira-kira jam 00:00, keluarlah satu janinku, dan kira-kira 15 menit kemudian, menyusul yang kedua. Ya, waktu itu aku sedang berada di rumah orangtuaku.
Setelah kedua janinku keluar, aku merasakan sakiiiiiiiiiiiiiit yang luar biasa. “aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh… kebayang lagiiiiiiiiiiiiiiiii… sakitnyaaaaaaaaaaaaaaaa…”, karena plasenta masih tertinggal di perutku dan aku mengalami pendarahan yang cukup banyak. Jadi mungkin wajar saja kalau aku mengalami kesakitan yang luar biasa. Lalu aku pun dilarikan ke rumahsakit. “waduh?”
Setelah sampai di rumahsakit, dokter langsung menangani aku, dan… alhamdulilah besoknya aku sudah boleh pulang. Waktu itu aku sempat berfikir: “sia-sialah rasa sakit yang telah aku alami… karena tidak menghasilkan apa-apa…” tapi kini aku sadar, Tuhan pasti punya rencana lain untuk hidupku… ya… pasti ada hikmah dibalik semua ini.
Menurut cerita orang-orang yang sempat melihat janin-janinku, calon bayiku keduanya berjenis kelamin perempuan, dan kakakku sempat cerita, kalau mereka cantik-cantik, karena keduanya sudah berbentuk, tinggal penyempurnaan saja.
Namun satu hal yang aku sesalkan, aku belum sempat mencium mereka… :((
Waktu aku pulang dari rumahsakit, mereka sudah dikubur.
*Mengenang*
Aku ingat, betapa bahagia dan bangganya aku ketika untuk pertama kalinya aku memakai celana hamil karena celana-celana yang aku punya sudah tidak muat lagi, betapa indahnya ketika untuk pertama kalinya aku meminum susu untuk wanita hamil… Tapi ya sudahlah, Tuhan memang belum menghendaki aku untuk punya anak. Janjiku, aku akan lebih menjaga kehamilanku yang berikutnya.
“I miss you and I love you so much, my babs…”
Pernah beberapa minggu yang lalu aku mencoba untuk menulis cerita yang akan kuceritakan ini, tapi… aku sungguh-sungguh tak sanggup menahan airmataku waktu itu. “segitunya yah?“
Buatku, ini adalah cerita yang sangat menyedihkan dan mengecewakan, namun dengan adanya aku menuliskan ini, bukan berarti aku ingin berbagi kesedihan dan kekecewaan, tapi aku Cuma gak mau lagi mendengar orang-orang menanyakan kabar kehamilanku.
Nah, untuk menghindari hal itulah aku menuliskan ceritaku ini.
Kalau kita sadari, memang, hidup manusia itu penuh misteri, seperti halnya juga dengan hidupku… “emang ngalamin misteri apaan?”
Waktu itu hari senin, 8 Desember 2009, bertepatan dengan hari raya Idil Adha, kebetulan aku sedang di rumah orangtuaku. Sekitar jam 5 sore, aku, ibu dan ayahku sedang mendengarkan berita di TV sambil ngobrol ngalol ngidul. Kalau tidak salah, salahsatu obrolan kami waktu itu mengenai 4 bulanan, karena kandunganku hampir menginjak 4 bulan. “what’s 4 bulanan? Cari aja di om google!”
Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Lalu aku ke kamar mandi. Tapi belum sempat aku buang air kecil, aku sadar, telah ada cairan membasahi rok yang sedang aku pakai waktu itu. Terang saja aku panik. Tapi, aku berusaha untuk menenangkan diri sendiri, sambil memastikan, cairan apa itu sebenarnya.
Aku pun akhirnya tahu, bahwa itu adalah darah… ya, itu darah!
Kemudian dengan tergesa-gesa, aku menuju ke kamarku. Rasanya tenagaku hilang saat itu.
aku benar-benar tidak tenang saat itu. Semua orang disekitarku berusaha menenangkan aku. Tapi tetap saja, bayangan-bayangan buruk memenuhi benakku.
Ada satu hal yang membuatku sedikit tenang, cerita kakakku, dia bilang, ada tetangga yang sedang hamil tiga bulan, tapi setiap bulan dia haid, dan kandungannya baik-baik saja sampai saat ini. Sebisa mungkin, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa kandunganku akan baik-baik saja.
Singkat cerita, besoknya aku pergi ke dokter specialis kandungan dengan ditemani kakakku. Suamiku tidak bisa ikut, karena katanya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, walau saat itu sebenarnya aku sangat membutuhkannya di sisiku.
Setelah melewati antrian yang cukup panjang, tibalah saatnya aku untuk diperiksa oleh sang Dokter.
Akhirnya Dokter pun memeriksa kandunganku. Dokter menyatakan bahwa aku mengandung janin kembar, tapi… jantung mereka sudah tidak berdenyut lagi… itu artinya, janin yang aku kandung sudah tidak bernyawa. :((
Mendengar berita itu, aku tak kuasa lagi menahan tangis. Aku merasa, aku telah kehilangan sebuah harapan.
Sepulang dari dokter, aku pun mengabarkan hal ini kepada suamiku. Aku tahu benar, perasaannya sama sepertiku. Tapi suamiku tidak yakin 100% terhadap hasil pemeriksaan dokter. Dia ingin agar aku memeriksakan kandunganku kembali ke dokter yang berbeda.
Besoknya, aku pun kembali memeriksakan kandunganku ke sebuah rumahsakit di Bandung dengan ditemani suami dan juga kakakku. suamiku memohon kepada suster yang membantu dokter yang akan memeriksaku agar aku dicatat sebagai pasien darurat sehingga aku didahulukan untuk diperiksa dokter.
Akhirnya dokter pun memeriksa kandunganku, dan ternyata hasilnya sama, bayi kembarku sudah tidak bernyawa… dengan sabar, dokter menerangkan kepada kakakku tentang keadaan janin di perutku. Masih terngiang ditelingaku kata-kata dokter itu:
“Nah, bu, ini kepalanya… dan ini jantungnya… coba ibu lihat, jantungnya tidak berdenyut… dan ini bayi yang satunya lagi… ibu bisa lihat, keadaannya sama, kan?” ya, aku benar-benar ditinggalkan mereka… bayi kembarku… “don’t cry!!!”
9 hari setelah itu, setelah para dokter berusaha mengeluarkan bayiku, barulah bayi kembarku keluar dari perutku. Dokter yang menanganiku sempat merasa sedikit putus asa, karena rahimku tidak juga mengalami bukaan sedikit pun, padahal aku sudah 3 hari menginap di rumahsakit tersebut. Itu artinya, sudah 3 hari juga dokter berusaha untuk membuka rahimku, karena konon, pasien-pasiennya yang mengalami hal yang sama denganku, biasanya hanya membutuhkan waktu 2 hari untuk bisa mengeluarkan janin mereka, sedangkan aku? 9 hari! “mungkin kalian emang betah tinggal di perut mama…”
Alhamdulilah, aku melahirkan bayi-bayiku tanpa operasi, meskipun prosesnya cukup lama.
Selama di rumahsakit, berbagai pengalaman pun aku dapatkan. Aku sempat mengalami dimarahi suster dan bidan ketika mereka memberikan obat padaku, “bukan karena aku gak mau dikasih obat lo, tapi aku tak tahan merasakan sakit ketika mereka memberi obat padaku dengan cara mereka… apalagi itu dilakukan 6 jam sekali… aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh… jadi kebayang…”,
aku juga pernah mengalami Anemia akibat kurang tidur karena harus mengkonsumsi obat selama 6 jam sekali, mendengar orang yang melakukan persalinan nyaris tiap waktu, etc. hal itu berlangsung selama kurang lebih 6 hari, sebelum akhirnya dokter menyarankan agar aku istirahat di rumah selama 2 hari.
Waktu itu aku pulang ke rumah hari Senin, 15 Desember 2008, dan dokter meminta aku kembali lagi hari Kamis. Aku pun merasa sedikit lega, karena akan terbebas dari suasana rumahsakit. Lalu aku pulang ke rumah orangtuaku.
Aku masih ingat benar, hari Rabu, 17 Desember, tepat jam 10 malam aku merasakan mules yang sangat hebat. Sampai akhirnya, kira-kira jam 00:00, keluarlah satu janinku, dan kira-kira 15 menit kemudian, menyusul yang kedua. Ya, waktu itu aku sedang berada di rumah orangtuaku.
Setelah kedua janinku keluar, aku merasakan sakiiiiiiiiiiiiiit yang luar biasa. “aduuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh… kebayang lagiiiiiiiiiiiiiiiii… sakitnyaaaaaaaaaaaaaaaa…”, karena plasenta masih tertinggal di perutku dan aku mengalami pendarahan yang cukup banyak. Jadi mungkin wajar saja kalau aku mengalami kesakitan yang luar biasa. Lalu aku pun dilarikan ke rumahsakit. “waduh?”
Setelah sampai di rumahsakit, dokter langsung menangani aku, dan… alhamdulilah besoknya aku sudah boleh pulang. Waktu itu aku sempat berfikir: “sia-sialah rasa sakit yang telah aku alami… karena tidak menghasilkan apa-apa…” tapi kini aku sadar, Tuhan pasti punya rencana lain untuk hidupku… ya… pasti ada hikmah dibalik semua ini.
Menurut cerita orang-orang yang sempat melihat janin-janinku, calon bayiku keduanya berjenis kelamin perempuan, dan kakakku sempat cerita, kalau mereka cantik-cantik, karena keduanya sudah berbentuk, tinggal penyempurnaan saja.
Namun satu hal yang aku sesalkan, aku belum sempat mencium mereka… :((
Waktu aku pulang dari rumahsakit, mereka sudah dikubur.
*Mengenang*
Aku ingat, betapa bahagia dan bangganya aku ketika untuk pertama kalinya aku memakai celana hamil karena celana-celana yang aku punya sudah tidak muat lagi, betapa indahnya ketika untuk pertama kalinya aku meminum susu untuk wanita hamil… Tapi ya sudahlah, Tuhan memang belum menghendaki aku untuk punya anak. Janjiku, aku akan lebih menjaga kehamilanku yang berikutnya.
“I miss you and I love you so much, my babs…”
Monday, October 27, 2008
HADIAH TERISTIMEWA
Dua tahun lebih sudah usia pernikahanku.
Aku menikah pada tahun 2006 (semester 4 kuliah).
Aku dan suamiku sengaja menunda untuk punya momongan atas berbagai alasan. Salahsatu alasannya adalah aku masih menempuh pendidikan.
Aku khawatir, kalau aku punya anak pada saat aku masih kuliah, anakku terabaikan karena kesibukanku.
Disamping itu juga, aku belum siap untuk punya anak, aku masih enjoy dengan teman-temanku, malah salahsatu temanku bilang bahwa aku masih terlalu imut untuk punya anak... heheheh…Geli juga sih aku mendengar kata-katanya itu.
Tidak sedikit juga temanku yang menyarankan agar aku segera punya anak, apalagi usiaku sedang produktif untuk itu.
Aku juga sadar, aku memang egois punya rencana seperti itu. Tapi aku tetap pada rencanaku, menunda kehamilan sampai aku benar-benar siap dan lulus kuliah.
***** Manusia memang hanya bisa berencana, hanya yang diatas yang bisa menentukan segalanya.
Di hari lebaran kemarin, tepatnya tanggal 1 Oktober, aku merasakan sesuatu, aku telat dua hari, (biasaaa, urusan wanita).
Aku punya feeling, aku hamil walaupun belum100% yakin, dan jujur saja, waktu itu juga aku belum siap 100% dengan kehamilanku.
4 hari kemudian, aku mengetes kehamilanku.
Aku meminta kakakku untuk melihat hasil dari tes tersebut.
Dadaku berdebar-debar saat aku memberikan hasil tes itu pada kakakku.
Ketika dia melihat hasil tes itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba meluncur dari mulutnya, “Kamu mau hasil tes ini negative atau positif?”
aku tidak mampu menjawan pertanyaan itu.
Aku hanya bisa diam dan harap-harap cemas.
Saat itu aku pun tak tahu, apakah aku mau hasil tesnya positif atau negative… aku pasrah.
Spontan aku menangis saat kakakku mengatakan bahwa hasilnya positif.
Waktu itu aku tak percaya, aku akan punya anak???? Seperti mimpi rasanya, sulit dipercaya…
Hari-hari pun berlalu.
Aku merasa, aku sudah diberi hadiah yang sangat istimewa dariNya, ya, hadiah cinta.
Sebuah permata, permata hati, permata hatiku, buah hatiku.
Aku memang hidup untuknya, untuk permata hatiku, untuk merawatnya, menjaganya, mendidiknya, membesarkannya. Ya, aku hidup untuk itu… untuk anakku.
“Dia membuatku merasa lebih berarti”
Aku menikah pada tahun 2006 (semester 4 kuliah).
Aku dan suamiku sengaja menunda untuk punya momongan atas berbagai alasan. Salahsatu alasannya adalah aku masih menempuh pendidikan.
Aku khawatir, kalau aku punya anak pada saat aku masih kuliah, anakku terabaikan karena kesibukanku.
Disamping itu juga, aku belum siap untuk punya anak, aku masih enjoy dengan teman-temanku, malah salahsatu temanku bilang bahwa aku masih terlalu imut untuk punya anak... heheheh…Geli juga sih aku mendengar kata-katanya itu.
Tidak sedikit juga temanku yang menyarankan agar aku segera punya anak, apalagi usiaku sedang produktif untuk itu.
Aku juga sadar, aku memang egois punya rencana seperti itu. Tapi aku tetap pada rencanaku, menunda kehamilan sampai aku benar-benar siap dan lulus kuliah.
***** Manusia memang hanya bisa berencana, hanya yang diatas yang bisa menentukan segalanya.
Di hari lebaran kemarin, tepatnya tanggal 1 Oktober, aku merasakan sesuatu, aku telat dua hari, (biasaaa, urusan wanita).
Aku punya feeling, aku hamil walaupun belum100% yakin, dan jujur saja, waktu itu juga aku belum siap 100% dengan kehamilanku.
4 hari kemudian, aku mengetes kehamilanku.
Aku meminta kakakku untuk melihat hasil dari tes tersebut.
Dadaku berdebar-debar saat aku memberikan hasil tes itu pada kakakku.
Ketika dia melihat hasil tes itu, sebuah pertanyaan tiba-tiba meluncur dari mulutnya, “Kamu mau hasil tes ini negative atau positif?”
aku tidak mampu menjawan pertanyaan itu.
Aku hanya bisa diam dan harap-harap cemas.
Saat itu aku pun tak tahu, apakah aku mau hasil tesnya positif atau negative… aku pasrah.
Spontan aku menangis saat kakakku mengatakan bahwa hasilnya positif.
Waktu itu aku tak percaya, aku akan punya anak???? Seperti mimpi rasanya, sulit dipercaya…
Hari-hari pun berlalu.
Aku merasa, aku sudah diberi hadiah yang sangat istimewa dariNya, ya, hadiah cinta.
Sebuah permata, permata hati, permata hatiku, buah hatiku.
Aku memang hidup untuknya, untuk permata hatiku, untuk merawatnya, menjaganya, mendidiknya, membesarkannya. Ya, aku hidup untuk itu… untuk anakku.
“Dia membuatku merasa lebih berarti”
Thursday, June 19, 2008
Problem
yesterday 1 of my friends came to me. she told me about dishonest, she asked me: "Ai, what do you think about dishonest?"
o... i really surprise when she asked like that, but i tried to answer: "i think, dishonest is not good for our life."
after she heard my answer, she was crying, and then, she told me that she's dishonest of her husband. so i asked her: "how and why do you do that?"
she answered: "i go with a man that has much money, cause i need much money! ... yes, i need much money! my husband doesn't have a job, so he can't give
the money for me and my children. i have been trying to find a good job for me, but i have never found. do you know what should i do?"
ooohh .. i touched heard her story. i can't answer her last question, ... really i don't know... actually i wanna help her, but i can't. i'd like to share with you about this problem.
what will you do if u got same problem with my friend? please... help me to get the answer.
thanks before.
o... i really surprise when she asked like that, but i tried to answer: "i think, dishonest is not good for our life."
after she heard my answer, she was crying, and then, she told me that she's dishonest of her husband. so i asked her: "how and why do you do that?"
she answered: "i go with a man that has much money, cause i need much money! ... yes, i need much money! my husband doesn't have a job, so he can't give
the money for me and my children. i have been trying to find a good job for me, but i have never found. do you know what should i do?"
ooohh .. i touched heard her story. i can't answer her last question, ... really i don't know... actually i wanna help her, but i can't. i'd like to share with you about this problem.
what will you do if u got same problem with my friend? please... help me to get the answer.
thanks before.
Subscribe to:
Posts (Atom)