Saturday, February 4, 2012

Pengalamanku Operasi Seksio (Caesar)



muncul lagi niiihhh,,, setelah sekian lama ninggalin blog karena sakit M alias MALAS, :D
ya, MALAS, malas nulis, abisnya bingung sih, apa yang harus ditulis, hehehe. padahal kalau aku nggak kena penyakit M, saat-saat mengandung untuk yang kedua kalinya (setelah mengandung sikembar), adalah saat-saat yang sangat indah. alhasil sewaktu sedang mengandung, blog ini aku isi dengan MP3-MP3 koleksiku, ya, karena saat itu malas banget nulis :D

Indah, sangat indah.
Waktu itu bulan Mei 2011, entah hari apa dan tanggal berapa tepatnya, aku lupa. pagi hari sekitar pukul 5, antara tidur dan bangun, aku seperti melihat kilatan cahaya. "lah kok melihat? kan Ai tunanetra tho?", hehehe, iya ya, aku lupa kalau aku ini adalah seorang tunanetra :P
Kebetulan aku masih punya sisa penglihatan, aku masih bisa membedakan terang dan gelap, dan aku juga masih bisa melihat cahaya lampu, cahaya matahari, cahaya bulan (kalau bulan purnama) :)


Back to storry.
Langsung saja aku ceritakan kejadian itu kepada sang suami saat itu juga. so, suamiku bilang: "mudah-mudahan itu pertanda kamu hamil ya."
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan suamiku itu, sambil dalam hati harap-harap cemas.

Kira-kira dua minggu setelah kejadian itu, aku cek kehamilan ke LAB. ternyata oh ternyata, aku positif hamil!

Setelah itu, tiap bulan aku tak pernah absen untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan, dokter pun selalu melihat keadaan si janin tiap bulannya. Ketika  usia kandunganku 4 bulan, dokter memberi tahu aku dan suami bahwa bayi kami perempuan. Wow, betapa senangnya aku waktu itu, apalagi aku berharap anak pertamaku perempuan.
Sewaktu hamil, aku rajin mencari-cari info tentang kehamilan di internet, hingga akhirnya aku menemukan sebuah artikel yang isinya mengenai orang hamil dengan tinggi kurang dari 148CM cenderung mempunyai panggul yang kecil, dan itu menyebabkan kepala bayi tidak bisa masuk tulang panggul, dan satu-satunya caranya melahirkan adalah caesar.
Aku jadi sedikit cemas setelah membaca artikel itu, lawong tinggiku memang kurang dari 148cm kok, hahaha ketauan deh orang pendek :P
. Kemudian aku googleing lagi tentang itu, ternyata memang benar adanya, orang pendek kayak aku cenderung memiliki panggul yang sempit.

37 minggu usia kehamilan, aku periksa lagi ke dokter, dan memang benar, kepala baby nggak masuk panggul, jadi, kesimpulannya aku harus melahirkan dengan jalan caesar. iiiii,,, takuuuuuttt... secara itu kan operasi gitu lho. Memang aku sedikit takut waktu itu, takut sakit... hehehe.. bukan gitu sih, sedikit khawatir aja, yang namanya operasi kan... Aku buat janji dengan dokter untuk operasi di tanggal 5 Januari 2012.

30 Desember, aku pindah dulu ke rumah ortu untuk sementara waktu, rencananya sih sampai usia anakku 2 bulan, meski dalam hati bertanya-tanya: “aku bakalan bisa nggak ya ngurus baby?”
Perasaanku campur aduk dalam menjalani hari-hari menjelang melahirkan. Ada rasa bahagia, ada rasa khawatir, ada rasa resah, ada rasa berdebar. Pokoknya campur aduk deh, kayak gado gado ;)

Singkat cerita nih, tibalah aku di hari Jumat, tanggal 6 Januari 2012, hari dimana aku akan melahirkan seorang bayi perempuan melalui jalan caesar. Lho, tadi katanya janjian sama dokternya tanggal 5 Januari, kok tiba-tiba jadi tanggal 6 sih? Bagaimana ini? Ya, tadinya sih mau operasi tanggal 5, tapi  waktu hari Rabu sore tanggal 4, bu dokter telpon dan mengabarkan kalau besok kamar operasi di RS Advent (RS dimana aku akan melahirkan) penuh, jadinya operasi diundur deh jadi tanggal 6 hari Jumat jam 1 siang.
Di rumah sebelum keberangkatan, aku menyiapkan segala sesuatunya termasuk mental, karena kesiapan mentallah yang paling utama bagiku. .
Sekitar jam 11 aku beserta rombongan yang nganter berangkat ke RS Advent yang terletak di daerah Cihampelas di Bandung. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk bisa sampai kesana dari Cisarua Bandung (rumah orangtuaku).
Sesampainya disana, aku langsung disambut oleh sebuah kursi roda yang didorong oleh seorang bapak. Aku masih ingat, waktu itu spontan aku bilang: ”Kok pake kursi roda segala sih pak? Saya jadi kayak orang sakit aja nih...” si bapak jawab: “lah, makanya mbak kesini juga berarti mbak sakit...”  kami pun tertawa-tawa dengan adanya pembicaraan itu. Aku sebenarnya ngomong kesana kamari, bercanda, itu demi menghilangkan rasa campur aduk yang ada di hatiku :D
Lalu aku langsung dibawa ke ruang operasi oleh si bapak, terus aku diserahkan ke para suster deh.

Langkah awal operasi, suster mengganti baju yang aku pakai dengan baju khusus operasi, setelah itu suster memasang invus di tangan kiriku,, tensi otomatis di tangan kananku, penditeksi jantung di dadaku. aku pun dibaringkan di meja operasi. Setelah 15 menit aku berbaring, dokter belum datang juga tuh. Tiba-tiba ada yang masuk ruang operasi dan mengabarkan bahwa bu dokter akan telat datangnya yaitu jam 2. Lalu suster bilang padaku, “Ibu mau tunggu dokter di luar apa disini aja, bu?”  “Di luar aja, sus.”  Jawabku. “Sebentar ya bu, ini invusnya loading dulu,” kata suster. “Ok deh, kayak di komputer aja sus loading. Emang apa sih loading itu maksudnya, sus?” tanyaku ke suster. Suster sempat menjelaskan apa itu loading yang aku tanggapi dengan kata “O” saja, aku sama sekali nggak tahu suster menjelaskan apa mengenai loading itu, soalnya saat itu perasaanku nggak karuan bangeeeettt, so, bikin aku nggak konsen kali ya. Nanti deh aku googleing tentang loading di invusan pra operasi caesar. Hehehe.
Aku ke luar ruangan ditemani suster. Aku duduk di kursi depan ruang operasi ditemani Yeti ponakanku. Kudengar suara bayi dari ruangan sebelah kananku, yang katanya itu dilahirkan secara caesar juga. Aku tersenyum senang saat mendengar tangis bayi tersebut.
Sementara di dalam perutku, si Utun bergerak kesana kemari seolah tak sabar ingin keluar. Hehehe.

Kira-kira jam 2 kurang dikit lah, aku dipanggil oleh suster untuk ke ruang operasi karena dokter sudah datang katanya.
Benar saja, sesampainya di dalam, dokter menyapaku dengan ramah.
Kudengar para dokter menyiapkan alat-alat operasi, di antaranya cutter, betadin, perban, dan yang lainnya.
Setelah itu, dokter-dokter dan suster-suster (entah berapa orang) menghampiriku. Salah satu di antara mereka mengoleskan alkohol ke punggungku. “nah lo, pasti mau disuntik ini, tapiii alkoholnya kurang banyak donk,” pikirku waktu itu. Aku tahu bahwa aku akan disuntik anastesi. Suntikan pertama, gagal, katanya nggak keluar, (nggak tahu apanya tuh yang nggak keluar, darahnya kali ya), suntikan kedua, nggak keluar juga, aduuuuhhh, punggungku mulai terasa sakit tulanngnya, bahkan sampai ke perut sakitnya, suntikan ketiga, belum keluar juga, keempat, rasanya pengen bilang aja ke suster, minta tambahin alkoholnya, suntikan kelima, keenam, baru deh keluar, dalam hati aku iseng ngitung suntikannya. sakiiitt sekali rasanya, kayaknya habis tuh alkoholnya :D
Kakiku mulai kesemutan, dan lumpuhlah. Aku coba gerakkan tanganku, ternyata masih bisa, dan aku coba berdehem, bisa juga.  “oh berarti aku masih sadar seratus persen”   setelah berdoa bersama-sama dengan para dokter, operasi pun dilakukan. Untuk memastikan  apakah aku masih sadar atau tidak, selama proses operasi, sesekali aku ngajak ngobrol dokter yang ada disebelahku. Ternyata aku memang masih sadar sehingga aku tahu akan kejadian-kejadian selama proses operasi.
Kira-kira 5 menit kemudian, aku merasa dokter yang berdiri di belakang kepalaku mendorong perutku bagian atas, sambil berkata kepada dokter yang mengoperasi: “Kepalanya Dok...”Wah, jabang bayi mau keluar nih, pikirku waktu itu. Benar saja, beberapa detik kemudian kudengar suara tangis bayi mungilku. Bahagianya aku saat itu, antara percaya dan tidak kalau aku sudah punya anak.
Sekitar 30 menit kemudian, dokter anak yang menangani anakku datang dan mengabarkan bahwa bayiku perempuan, putih dan cantik sekali seperti ibunya... hahaha, itu kata dokter ya, bukan kata aku :D

Waduuuhhh,,, keasyikan ngetik nih sampe jari lumayan pegel, segini dulu deh tulisanku, tuh, lagian Dara anakku bangun minta mimi. :D
Besok atau lusa, atau kapan saja aku ingin menulis, aku akan cuap cuap lagi disini ;)